Minggu, 01 Desember 2019

BIMA THE POWER OF ESEMKA


Bima yang memiliki nama lengkap Bima Pick up  merupakan mobil yang sering diendorse oleh pemerintah. Tentu saja demikian, karena Bima merupakan mobil buatan putra bangsa melalui produsennya yakni PT Solo Manufaktur Kreasi atau yang sering kita kenal dengan nama ESEMKA. Bima 1.m ini merupakan kendaraan type pick up yang dipergunakan untuk mengangkut barang di setiap bisnis yang dijalankan oleh para pengusaha.

ESEMKA sendiri telah lama diperkenalkan ke publik sejak Kota Solo masih dipimpin oleh Pak Joko Widodo pada tahun 2012. Pembuatan mobil ini berawal dari keinginan seorang pemiliki bengkel mobil sekaligus guru di SMK di kota Solo yang mengajak anak didiknya untuk mendesain dan membuat mobil, hingga pembuatan mobil tersebut didengar gaungnya oleh pak Walikota Solo. Tepat Hari Jum’at 6 Septeber 2019, ESEMKA diresmikan oleh Presiden Ri yakni Pak Joko Widodo di pabrik rakitan ESEMKA di Boyolali, Jawa Tengah.

Bima diluncurkan ke publik dengan dua model yakni Bima 1.2 dan Bima 1.3. Jika dilihat dari bodi, mobil ini tampak simple dengan warna putih secara menyeluruh, yang mana kedua model ini tidak ada perbedaan secara signifikan. Menurut Tempo, Produksi mobil ini melibatkan banyak perusahaan sebagai supplier onderdil dan komponen mobil seperti PT INKA (Chassis dan Kargo), PT Catur Karya Manunggal (Knalpot), PT Indospring (Per Daun), PT Armada Indah Agung Glass (Kaca Depan-Samping-Belakang), PT IMS (Grill), PT Selamat Sempurna (Fuel Filter) dan masih banyak lagi.

Dilansir dari CNBC Indonesia, ESEMKA Bima dibanderol dengan harga 95 juta Rupiah. Mobil yang memiliki pablik di Desa Demangan, Boyolali ini memiliki kemampuan yaitu Kargo Box berukuran panjang 2.750mm-lebar 1.600mm-tinggi 460mm, Daya Maksimum 72nm, Torsi Maksimum 119nm, Mesin 1.2 L dengan E-Power 14 DOHC, Total Panjang Mobil ini 4.460mm dan Lebar 1.645mm.

Dengan hadirnya mobil ESEMKA Bima, diharapkan akan mampu bersaing di kancah otomotif khususnya kendaraan angkut/pick up di Indonesia. Pemasaran dan penjualan produk diharapkan segera merata keseluruh wilayah Indonesia dengan harga jual yang kompetitif dan purna jual yang tinggi.


Sabtu, 30 November 2019

KOMPETISI BATERAI LITHIUM DI DUNIA


Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alamnya, salah satunya ialah Nikel. Nikel merupakan mutiara tersembunyi yang Indonesia miliki. Komponen ini berasal dari pecahan meteorit masa lampau yang telah bersatu dengan mineral bumi sehingga menjadi sebuah sumber daya alam yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia terutama untuk mengembangan teknologi kekinian.

Menurut para peneliti kandungan dalam nikel berupa unsur kimia metalik dalam tabel periodik yang memiliki simbol Ni dan nomor atom 28. Nikel mempunya sifat tahan karat. Dalam keadaan murni, nikel bersifat lembek, tetapi jika dipadukan dengan besi, krom dan logam lainnya, dapat membentuk baja tahan karat yang keras. Harga nikel berhasil berbalik menguat setelah terdepresiasi 6 perdagangan berturut-turut hingga menyentuh level terendahnya sejak perdagangan tiga bulan lalu.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (22/11/2019), harga nikel di bursa London bergerak menguat 0,97% menjadi US$14.642 per ton. Adapun, sepanjang tahun berjalan 2019, harga nikel telah bergerak menguat signifikan 36,4% dari harga awal tahun ini di US$10.677,5 per ton akibat tekanan pasokan ditambah dengan larangan ekspor bijih nikel oleh Indonesia yang dimajukan dua tahun lebih awal. 

Kendati demikian, dalam beberapa perdagangan terakhir penguatan harga nikel tidak lagi menggebu-gebu seperti yang terjadi pada perdagangan awal tahun ini. Hal tersebut dikarenakan proyeksi permintaan yang dalam tekanan akibat perang dagang AS dan China mengalahkan sentimen pasokan yang menipis.

Nikel sendiri memiliki manfaat besar salah satunya sebagai bahan baku pembuatan baterai lithium pada industri otomotif. Sejak awal tahun 2015, persaingan industri otomotif mobil di dunia sangat sengit, para pengusaha mencari bahan baku dari berbagai belahan dunia. Kini industri otomotif mobil sedang dikuasai oleh tiga negara besar yakni Jerman, Jepang dan China.

Negeri Panda telah bertekad pada tahun 2025 akan menerapkan electric vehacle sebesar 35%, yang artinya China akan berusaha keras memperoleh pasokan bahan baku nikel untuk memenuhi kebutuhan pembuatan baterai lithium untuk industri otomotif mobil yang sedang mereka jalankan. Kita bisa lihat mobil-mobil buatan China telah mengaspal di Indonesia seperti mobil pabrikan Wuling dan DFSK. Ekspor nikel yang dilakukan oleh Indonesia akan menjadi peluang besar bagi ketiga negara tersebut. Jika demikian alangkah baiknya Indonesia mengembangkan industri otomotif mobil melalui pabrikan ESEMKA di Solo dengan memanfaatkan hasil bumi berupa Nikel untuk menciptakan electric vehicle yang ramah lingkungan.