Kamis, 28 November 2019

Hulonthalo is The Legend



Hari Pertama
Tepat tanggal 15 Nopember, saya tiba di sebuah bandara, bandara Jalaluddin namanya. Bandara ini terletak disebuah semenanjung sebelah utara dari pulau celebest atau sulawesi orang bilang. Gorontalo itulah nama kotanya, sebuah kota yang berdiri dengan sejarah panjangnya yang bagus dan penuh dengan intrik-intrik khas milik rakyat Hulontalo. Hulontalo merupakan nama dahulu dari Gorontalo yang didasari oleh berdirinya kerajaan Hulantalangi yang merupakan gabungan dari 17 (tujuh belas) kerajaan kecil di semenanjung utara pulau Sulawesi ini. Hari pertama aku tiba di sebuah daerah yang berbama Limboto, yang merupakan ibukota Kabupaten Gorontalo. Kabupaten ini terletak di sebelah barat dari Kota Gorontalo dan sebelah timur dari Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato.
Sedari bandara aku langsung dijemput oleh sahabat lamaku yang kini sudah menjadi CPNS dosen di sebuah perguruan tinggi Agama Islam, IAIN Sultan Amai namanya. Akau dan sahabatku langsung berjalan menuju pusat kota Limboto, di sana terdapat kampus II IAIN Sultan Amai Gorontalo yang tepatnya di desa Pone, sekitar 5 KM dari pusat kota Limboto. Setelah melihat-lihat keadaan kampus, aku langsung bergegas ke Kota Limboto, di sana terdapat Menara Limboto atau orang bilang miniatur dari Menara Eifel yang ada di Paris. Sebenarnya Menara Limboto ini merupakan menara masjid agung Limboto, yang hanya saja terletak di tengah-tengah jalan raya dilalui oleh banyak pengendara. Begitu indahnya menara tersebut sehingga menjadi salah satu ikon Propinsi Gorontalo dan menjadi ikon Kota Limboto.
Sekitar jam 8 pagi aku tiba di kontrakan sahabatku untuk beristirahat dan sebagai tempat singgahku selama di Kota Gorontalo. Sekitar jam 9 pagi, kami langsung menuju kampus I IAIN Sultan Amai Gorontalo yang tidak begitu jauh dari kontrakan, sekitar 10 menit perjalanan. Kampusnya begitu indah dengan dikelilingi bukit-bukit dan dilewati oleh irigasi kecil yang masih bagus dan terjaga kealamiannya. Kami langsung menuju UPT Perpustakaan kampus sebagai tempat singgah selama berada di kampus I , dan sambil menunggu sahabatku mengajar para mahasiswanya selama 1 kali pertemuan. Sembari menunggu sahabatku, aku berkeliling melihat kampus yang cukup luas dan terdapat Fakultas Tarbiyah , Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Fakultas Syariah dan beberapa sarana-prasarana kampus yang diperlukan oleh para mahasiswa. Depan kampus terdapat banyak toko dan warung makanan dan juga terdapat 2 (dua) masjid yang berbeda ormas yaitu 1 (satu) masjid milik ormas NU dan  1 (satu) masjid milik ormas Muhammadiyah.
Masih di hari yang sama yaitu kamis, sekitar jam 15.15 kami langsung bergegas untuk berziarah ke makam auliya yang ada di sini, pertama ke makam aulia Male Ta Ilayabe di dekat pelabuhan Gorontalo sekitar 30 menit dari pusat kota dengan menggunakan sepeda motor yang terdapat di atas bukit yang sebelumnya harus naik dengan sekitar 150 anak tangga. Kami berziarah sekitar 1 jam di sana dan Alhamdulillahnya langsung bertemu dengan penjaga makan, sehingga kami bisa masuk dan melihat langsung makan aulia tersebut, Subhanallah sekali karena ini meruoakan rejeki orang jauh yang bisa datang melihat dan mendo’akan beliau dari tempat aslinya. Sekitar jam 16.45, kami bergegas menuju makam raja Jo Panggola yang terletak dekat dengan Danau Limboto dan Titik pertama Presiden Soekarno mendarat di Proponsi ini (dahulu masih bagian dari Sulawesi Utara). Berziarah di sini lebih ramai dan banyak pengemis dari warga sekitar dan terdapat tandatangan Masyarakat Gorontalo kepada Unesco yang mendukung Danau Limboto menjadi warisan dunia dari Indonesia khususnya Gorontalo.
Perjalanan dari kota Gorontalo menuju Jo Panggola sekitar 35-40 menit, Tepat menjelang maghrib kami bergegas menuju pulang dan singgah dulu di masjid untuk menunaikan sholat maghrib. Pukul 20.30 kami tiba di kontrakan, dan saya mempersiapkan peralatan untuk ujian SKD (CAT) CPNS esok paginya.

Hari Kedua
Hari Jum’at tanggal 16 Nopember 2018 telah tiba, tepatnya jam 7 aku bergegas ke Damhil UNG (Universitas Negeri Gorontalo) dengan diantar oleh sahabatku, registrasi terus dilakukan dengan mengantri dibelakang ribuan peserta SKD CPNS lainnya. Pukul 08.00 semua peserta dihimbau untuk memasuki ruangan aula/hall Damhil, sekitar 300 peserta masuk dalam keadaan siap menghadapi soal-soal SKD sebanyak 100 soal terdiri dari TWK (Tes Wawasan Kewarganegaraan), TIU (Tes Inteligensi Umum) dan TKP (Tes Karakter Pribadi) yang diberi waktu selama 90 menit. Tepat pukul 10.30 seluruh peserta dipersilahkan keluar ruangan ujian, dan hasil pun saat itu langsung keluar dan milikku 95 (TWK), 65 (TIU), 126 (TKP) dengan total 286.
Setelah selesai mengerjakan ujian SKD, aku langsung bergegas ke Masjid Besar UNG yang berada di sebelah barat UNG kampus 1. Selesai sholat, sahabatku langsung menjemputku di depan masjid, karena kami sholat jum’at di tempat yang berbeda. Kemudian, kami langsung tancap ke kontrakan untuk beristirahat hingga sore hari. Hujan mengguyur kota Gorontalo sedari pukul 17.00 hingga menjelang adzan isya. Setelah menunaikan sholat isya, kami langsung mencari kranjang (sebuah songkok khas Gorontalo yang terbuat dari rotan kecil) yang dibentuk begitu indah, harganya bervariasi untuk yang kranjang berbentuk songkok bertuliskan “PROVINSI GORONTALO” berkisar IDR 135.000, untuk songkok polos tanpa tulisan dan hanya motif berkisar IDR 100.000, dan untuk kranjang berbentuk peci berkisar IDR 50.000. 

Hari Ketiga
Tepat pukul 09.00 aku, sahabatku dan teman kenal di sini bersiap-siap untuk City Tour menggunakan kendaraan roda dua kami. Tujuan pertama kami ialah kampung kerajaan Bubohu di dekat pantai dulanga Kota Gorontalo. Di sana banyak sekali peninggalan sejarah kerajaan Bubohu seperti rumah adat dan beberapa gambaran struktural trah kerajaan Bubohu dan kerajaan Hulantangi hingga lahirnya Hulontalo atau Gorontalo ini. Dalam wisata tersebut, kami bisa berfoto ria dan memberi makan burung dara dengan jagung mentah dengan harga berkisar IDR 3.000 s/d 5.000. Kami menghabiskan sekitar satu setengah jam di lokasi tersebut, setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Kubah Emas Batudaa, di sana terdapat banyak lokasi spot foto yang indah, dari bunga kayu, rumah kayu, kubah masjid hingga kolam-kolam sekitar masjid yang indah.
Biaya masuk dan parkir cukup murah, hanya IDR 5.000/orang yang bisa kita nikmati sepuasnya, dan medan menuju masjid tersebut tidak begitu sulit, hanya penuh dengan tanjakan dan turunan yang curam. Jika kita naik ke puncak masjid, maka akan tampak hamparan desa di pesisir batudaa pantai Gorontalo, hamparan laut teluk tomini dan indahnya barisan bukit yang menjaga selatan pesisir provinsi ini. Setelah kami berwisata ria di wisata Masjid Kubah Emas, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Dulanga Batudaa yang tidak jauh dari lokasi kerajaan Bubohu. Pantai tersebut masih tampak asri, dan terdapat beberapa wisata buatan seperti ayunan bertuliskan PANTAI DULANGA, spot foto LOVE yang terbuat dari kayu, spot foto sarang burung dan indahnya hamparan pantai pasir putih dengan barisan batu karangnya. Saat kami tiba di lokasi ternyata bertepatan dengan adanya agenda mahasiswa Unikhsan sehingga pantai tampak ramai, dan di beberapa lokasi terdapat proses pembangunan untuk mempercantik pantai ini.
Selanjutnya kami menuju Bone Bolango, sebuah kabupaten di timur Kota Gorontalo dan kami berhenti sejenak di warung kopi dekat komplek pemerintahan Provinsi Gorontalo dan kami pun berjumpa dengan rekan kami sama-sama dari jawa, mereka bertiga mengendarai sebuah bentor yang kebetulan akan berkunjung ke komplek Pemerintahan Provinsi Gorontalo. Setengah jam kemudian kami beranjak dari warung kopi menuju Benteng Ulantha di Kabupaten Bone Bolango, kami bertiga menghabiskan waktu sekitar 2 jam, dan biaya yang dikenakan pun hanya biaya parkir saja IDR 2.000. Kami menaiki kedua tower Benteng Ulantha dan tampak barisan pegunungan dan bukit yang mengelilingi Provinsi Gorontalo, tampak kampus UNG terbaru dan kantor pemerintahan Kabupaten Bone Bolango. Benteng ini masih dalam proses pembangunan dan kalau dilihat dari depan tampak benteng jaman kerajaan romawi. Menuju benteng ini, kita harus mendaki anak tangga sekitar 30 anak tangga yang berada di belakan kantor salah satu dinas Kabupaten Bone Bolango.
Tepat pukul 16.10, kami singgah di Masjid Agung Bone Bolango untuk menunaikan sholat ashar, selepas sholat kami lanjut mampir di De Center Point, yang tampak seperti bundaran tiga persimpangan. Di lokasi ini tampak sebuah bangunan seperti Benteng Berlin Bersatu di Jerman atau Benteng Simpang Lima Gumul di Kediri, dan terdapat pula tulisan besar “ DE CENTER POINT” yang dibelakangnya terhampar sawah yang hijau nan luas. Sembari menikmari sore yang sejuk, kami mencicipi nasi goreng merah dan pisang goroho dengan sambalnya yang begitu pedas serta ditemani dengan secangkir teh hangat. Jam sudah menunjukan 17.45 WITA yang artinya kami harus segera beranjak pergi menuju Kota Gorontalo. Setibanya kami di kontrakan sekitar pukul 19.30, ternyata teman-teman telah bersiap-siap untuk bakar ayam sebagai proses menghormati kedatangan saya, walaupun tidak lolos passing grade CPNS, setidaknya saya telah menyambung silaturahmi dengan teman-teman baru di Kota Serambi Madinah ini.

Hari Keempat
Tepat pukul 08.00 aku dan sahabatku beranjak menuju Benteng Otanaha di Batudaa, Kabupaten Gorontalo yang dapat ditempuh sekita 30 s/d 45 menit dari pusat kota Gorontalo. Komplek Benteng Otanaha  terdapat tiga buah benteng (dua benteng berada di puncak dan satu benteng terletak disekitar lebih rendah 300 M dari puncak). Dari puncak Benteng Otanaha. Kita bisa melihat Danau Limboto yang begitu luas, hambaran pegunungan/bukit di utara dan selatan Provinsi Gorontalo dan pedesaan-pedesaan di sekitar Kabupaten Gorontalo. Biaya masuk wisata benteng ini hanya IDR 5.000/orang dan biaya parkir IDR 2.000/motor dan IDR 4.000/mobil. Ada dua jalur menuju komplek Benteng Otanaha, satu melalui jalur pedesaan yang nantinya kita harus mendaki sekitar 300 anak tangga untuk mencapai puncak Benteng Otanaha, dua jalur menggunakan kendaraan baik roda dua dan roda tiga. Benteng Otanaha ini dibuat sejak jaman penjajahan Belanda dan nama benteng pun diambil dari salah satu petinggi Belanda. Benteng ini dibuat untuk menghalau musuh-musuh yang akan menyerang mereka.
Tepat pukul 10.30 WITA kami turun dari komplek Benteng Otanaha menuju Masjid Hunto Sultan Amai dan kami pun berziarah ke makan Raja Islam pertama di kerajaan Gorontalo beserta para masyayikh yang ikut berjuang menyebarkan agama Islam di bumi Serambi Madinah ini. Selepas ziarah, kami melanjutkan menunaikan sholat dzuhur berjamaah dan setelah itu kami menuju pusat oleh-oleh Pia Saronde khas Gorontalo di dekat Mall Gorontalo. Pukul 13.30 WITA kami langsung menuju bandara Jalaluddin Gorontalo, karena dijadwalkan pesawat akan take off sekitar 15.10 WITA menuju Jakarta dengan transit di bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Kami tiba di bandara sekitar pukul 14.30 dan langsung saya berpamitan dengan sahabatku, Alhamdulillah menuju check-in pun masih buka dan menerima saya. Ternyata pesawat yang akan saya gunakan mengalami delay yang akan dijadwalkan berangkat 15.10 WITA, menjadi tidak menentu dengan kejadian ini saya bisa sejenak menunaikan sholat ashar. Akhirnya pesawat tiba di bandara Jalaluddin pada pukul 15.45 WITA dan segera mengangkut para penumpang dan rencana akan take off pada pukul 16.10 WITA.
Pukul 16.10 WITA pesawat landing transit di bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan saya pun menunaikan sholat jama’ taqdim magrib dan isya sekaligus dinner setelahnya. Diinfokan oleh informan bandara bahwa pesawat yang akan membawa saya ke Jakarta mengalami delay hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Tepat pukul 19.15 WITA, pesawat pun tiba dan seluruh penumpang bergegas menuju pesawat. Pukul 21.28 WIB kami tiba di bandara Soekarno-Hatta terminal 1, dan saya pun langsung beranjak ke parkir motor yang dikenakan biaya IDR 5.000/hari/motor cukup murah bukan. Pukul 23.35 WIB saya pun sampai di rumah. Alhamdulillah .. selamat dan semoga ada kebijakan baru di seleksi CPNS 2018 ini.
Semoga temen-temen ada waktu untuk singgah ke BUMI SERAMBI MADINAH.. Amiinnn

Tidak ada komentar:

Posting Komentar