Senin, 29 April 2013

Pemikiran Filsafat Ibnu Sina


 Pemikiran Filsafat Ibnu Sina
 
       I.            Biografi
Ibnu Sina mempunyai nama lengkap Abu Ali Husein Ibn Abdullah bin Sina. Di dunia barat ia dikenal dengan Avicenna. Ia adalah seoarang filosof besar yang pernah menjadi murid al-Farabi.[1] Beliau lahir di Afsyana, suatu tempat yang terletak di dekat Bukhara, pada daerah Khirmaisyin,[2] dikawasan Asia Tengah. Ia lahir pada tahun 370 H bertepatan dengan tahun 980 M. Dalam sejarah pemikiran islam, Ibnu Sina dikenal sebagai intelektual muslim yang banyak mendapat gelar. Tampilnya Ibnu Sina sebagai ilmuan yang didukung oleh tempat kelahirannya sebagai ibukota kebudayaan. [3]
Di kota Bukhara Ia Menghafal Al-Qur’an dan belajar ilmu-ilmu agama dan ilmu astronomi, sedangkan usianya baru sepuluh tahun, kemudian Ia mempelajari matematika, fisika, logika dan metafisika. Sejarah mencatat sejumlah guru yang pernah mendidik Ibnu Sina diantaranya Mahmud Al Massah yang dikenal sebagai ahli matematika dari India. Selanjutnya terdapat nama Abi Abdillah an Natilli yang darinya Ibnu Sina mempelajari ilmu Mantiq dan Falsafah. Selanjutnya dengan cara otodidak, Ibnu Sina mempelajari ilmu kedokteran secara mendalam, hingga ia menjadi seorang dokter termasyhur pada zamanya.[4] Dan ada pula yang berpendapat bahwa  Ia mempelajari Ilmu kedokteran pada Isya bin Yahya, seorang Masehi.
Sebelum berumur 16 tahun, ia sudah mahir dalam ilmu kedokteran, sampai-sampai orang banyak berdatangan untuk berguru kepadanya. Ia tidak hanya menguasai teori-teori kedokteran, tapi juga melakukan praktek mengobati orang-orang sakit. Ketika ia mencapai usia 17 tahun, Nuh bin Mansur penguasa daerah Bukhara, menderita sakit keras yang tidak bisa diobati oleh dokter-dokter pada masanya. Akan tetapi, setelah Ibnu Sina mengobatinya, sembuhlah dia. Sejak itu Ibnu Sina mendapat sambutan yang sangat baik sekali. Pada usia 22 tahun ayahnya yang bernama Abdullah dari Balkh meninggal dunia. Ibnu Sina Kemudian meninggalkan Bukhara menuju Jurjan dan dari sini ia pergi ke Khawarazm. Di Jurjan ia mengajar dan mengarang tetapi ia tidak lama tinggal disana karena kekacauan politik. Ibnu Sina bukan seorang yang hidup menjauhkan diri dari kesenangan hidup duniawi. Ia hidup dalam menara gading, sambil berkecimpung dalam kehidupan politik. Ia berpindah-pindah dari suatu negri ke negri lain, untuk menyumbangkan beberapa pikirannya pada beberapa pangeran yang berkuasa[5] dan akhirnya sampai di Hamadsan. Oleh penguasa negri ini yaitu Syamsuddaulah, ia diangkat menjadi mentrinya beberapa kali sesudah ia mengobati penyakit yang di deritanya, meskipun pada masa tersebut ia pernah pula dipenjarakan.
Selama hidupnya Ibnu Sina penuh dengan kesibukan bekerja dan mengarang, penuh pula dengan kesenangan dan kesulitan dan boleh jadi keadaan ini telah mengakibatkan ia tertimpa penyakit dingin yang tidak dapat diobati lagi, pada tahun 428 H (1037 M) ia meninggal dunia di Hamadzan dalam usia 58 tahun.[6]
a.      Karya Ibnu Sina
Ibu Sina tidak pernah mengalami ketenangan dalam hidupnya dan usianya pun tidak panjang. Meskipun banyak kesibukan dalam urusan politik, dan ditengah carut marutnya kondisi sosial politik saat itu Ibnu Sina masih dapat menuangkan gagasan dan pemikirannya, sehingga dari tangannnya lahir buku-buku ilmu pengetahuan. Ibnu Sina menikmati kekuasan luar biasa atas tubuh dan pikirannya. Dan kemampuan-kemampuan alamiah nya luar biasa tajam dan kuat. Ibnu Sina bisa melihat dan mendengar sampai jarak bermil-mil, bisa mengingat ribuan halaman diluar kepala hanya dengan sekali membaca dan bisa menulis buku-buku klasik selama dalam perjalanan hidupnya.[7] Dibidang filsafat Ibnu Sina dianggap sebagai Imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya, dan dia pun dikenal sebagai penyair. Sehingga ilmu-ilmu pengetahuan seperti ilmu jiwa, kedokteran dan kimia, ada yang ditulisnya dalam bentuk syair. Begitu pula buku-buku yang dikarangnya untuk ilmu logika dengan syair. Ibnu Sina juga dikenal produktif dalam berkarya. Produktifitas Ibnu Sina ini disebabkan oleh:
Ø  Ia pandai mengatur waktu. Waktu siang digunakan untuk mengerjakan pemerintahan, watu malam digunakan untuk mengajar dan mengarang.
Ø  Kecerdasan otak dan kekuatan ingatan. Sering-sering menulis tanpa referensi. Pada saat-saat kegiatannya tidak kurang dari 50 lembar yang di tulisnya setiap hari.
Ø  Sebelum Ibnu Sina telah hidup Al-Farabi yang juga mengarang dan mengulas buku-buku filsafat. Ini berarti al-Farabi telah meretakan jalan baginya, sehingga tidak banyak lagi kesulitan-kesulitan yang harus dihadapinya terutama soal-soal yang kecil.[8]
Ø  Ibnu Sina pernah bercerita kepada muridnya Abu Ubaid Al Jurjani bahwa saban kali ia mengarang dan tersekat oleh suatu problema yang tidak dapat dipecahkan maka ia pun pergi ke masjid dan shalat tahajud. Demikian sering dilakukannya dan hal itu dicatat Ibnu Ubaid di dalam riwayat hidup Ibnu Sina.[9]
b.      Karangan-karangan Ibnu Sina yang terkenal adalah:
a.       Asy-Syfa, buku filsafat yang terpenting dan terbesar. Buku ini terdiri atas empat bagian yaitu: logika, fisika, matematika dan metafisika ( ketuhanan ). Buku tersebut mempunyai beberapa naskah yang terbesar diberbagai perpustakaan di Barat dan Timur.
b.      An-Najat yang merupakan rigkasan buku Asy-Syifa. Buku ini pernah diterbitkan bersama-sama dengan buku Al-Qanun, mengenai ilmu kedokteran, pada tahun 1593 M di Roma dan pada tahun 1331 di Mesir.
c.       Al-Isyarat wat-Tanbikat, buku terakhir yang paling baik dan pernah diterbitkan di Laiden pada tahun 1892 M. Dan sebagianya diterjemahkan kedalam bahasa Prancis. Kemudian diterbitkan di Kairo lagi pada tahun 1947 di bawah asuhan Dr.Sulaiman Dunia. Terpandang karya Tasawuf terbesar berisikan pembahasan tentang kebahagiaan yang sebenar-benarnya dalam kehidupan manusiawi.[10]
d.      Al-Qanun ( Canon Of Medicine ) yang pernah diterjemahkan kedalam bahasa latin dan pernah menjadi buku standar untuk universitas-universitas di Eropa sampai akhir abad ke-17 M. buku ini pernah diterbitkan di Roma pada tahun 1593 dan di India pada tahun 1323 H. [11]
e.       Al-Hikmah Al-Masyriqiyah. Buku ini banyak dibicarakan orang karena tidak jelasnya judul buku dan naskah-naskahnya yang masih ada memuat bagian logika ada yang mengatakan buku mengenai tasawuf.[12] Tetapi menurut Carlos Nallino, berisi filsafat Timur sebagai imbangan dari filsafat Barat.
Dalam permulaan bukunya, pada bagian obat-obatan sebagai yang tertera dalam Qanon, Ibnu Sina telah meletakan tujuh dasar untuk memungkinkan penyelidikan pengalaman. Dibawah ini dituliskan secara singkat:
1.      Obat harus bersih darisesuatu jenis tambahan.
2.      Eksperimen, harus dilakukan dengan mudah dan tidak merupakan suatu penyusunan penyakit.
3.      Obat harus dicoba dengan dua macam penyakit yang berlawanan.
4.      Mutu obat harus sesuai dengan kekuatan penyakit.
5.      Waktu bertindak harus diperhatikan sehingga unsur dan kejadian tidak meragukan.
6.      Kekuatan yang ditimbulkan obat, harus diperhatikan guna memperoleh kepastian dalam beberapa hal. Sebab jikalau penyakit tidak sembuh, itu adalah karena akibat kekuatan tidak seimbang dengan kekuatan penyakit.
7.      Percobaan-percobaan harus dilakuakan dengan tubuh manusia, sebab mencobakan obat terhadap singa atau seekor kuda mungkin demikian kalau digunakan oleh manusia tidak cocok.[13]
Pembagian filsafat bagi Ibnu Sina tidak banyak berbeda dengan pembagian-pembagian yang sebelumnya.[14] Ia terkenal sebagai seorang ahli fikir yang taat pada agama, setiap menyusun karya-karyanya selalu memohon petunjuk Tuhan dan bersembahyang.[15] Praktek kehidupannya tercermin dalam pemikirannya mengenai soal-soal politik dan filsafat kekuasaan.[16]  



c.       Sumber-sumber Pengetahuan Ibnu Sina
Ibnu Sina dengan filsafat ketimurannya tentang kehidupan lain adalah sosok pemikir yang terlibat dalam berbagai konflik yang terjadi pada masanya, sekaligus sebagai seorang militan untuk mencapai suatu tujuan. Sementara itu, studi Ibnu Sina mengenai ilmu alam disandarkan kepada masing-masing sumber dari sumber-sumber ilmu yang diberikan kepada manusia berupa cara pembuktian, pentakwilan ayat-ayat al Qur’an sampai kepada catatan dan eksperimen.
d.      Teori Pengetahuan Ibnu Sina
Ibnu Sina menjelaskan pengetahuan secara berbeda dengan pandangan tradisional. Al Farabi misalnya meyakini pengetahuan sebagai pengetahuan sebagai perkembangan progesif pengalaman dan ide-ide umum kita kearah yang lebih abstrak. Bagi Ibnu Sina ide-ide abstrak telah mewujud dalam pikiran. Kekhasan teori Ibnu Sina ini menambah bobot dugaan bahwa sebenarnya dia mengakui dua pendekatan dalam kaitannya dengan pengetahuan pendekatan filosofis dan mistis. Menurut Ibnu Sina, persesuaian ide-ide abstrak dengan ralitas fenomenal hanya bersifat kebetulan. Karena itu jelaslah alasan Ibnu Sina untuk berpaling dari dunia dan pemusatan diri pada sesuatu yang lebih tinggi dalam rangka memperoleh pengetahuan.[17]

    II.            Pokok Pemikiran Ibnu Sina
a.      Metafisika (Filsafat Ketuhanan)
Ibnu Sina merupakan murid al-Farabi, jadi tidak mengherankan apabila banyak pemikiran yang memiliki kesamaan antara pemikiran Ibnu Sina dan al-Farabi  dalam teori ketuhanan. Dalam memandang persoalan Tuhan, Ibnu Sina berpendapat bahwa Tuhan adalah sesuatu yang suci dari adanya mahluk. Tuhan adalah sebab efficient dari alam. Dalam hal ini, Ibnu Sina mengembangkan teori Emanasi al Farabi dengan beberapa perubahan. Menurut al Farabi , Tuhan memancarkan dirinya sehingga lahir akal pertama, dan akal pertama memancarkan dirinya sehingga lahir akal kedua dan langit pertama dan seterusnya sehingga mencapai akal kesepuluh dan bumi. Akal pertama adalah malaikat tertinggi dan akal kesepuluh adalah jibril.[18] Ada beberapa masalah yang akan di jawab oleh Ibnu Sina mengenai tiga teori dari beberapa filosof yaitu: Pertama, teori Plato dan Plotinus yang mengungkapkan bahwa “prinsip pertama”  yang esa dari segala sisi adalah diatas segala nama dan sifat, khususnya sifat ilmu karena sifat ini mengandung dalam dirinya dualisme: yang mengetahui dan diketahui, atau subjek dan objek. Kedua, teori Aristoteles yang mengungkapkan bahwa tuhan hanya akal semata, padanya sendiri, bukan dari sesuatu yang lai  dari Dzat-Nya. Ketiga ajaran Al-Qur’an menjelaskan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, baik yang di bumi maupun yang lainya. Pemikiran metafisika Ibnu Sina bertolak pada pandangan filsafatnya yang membagi 3 jenis hal yaitu:
1.      Penting dalam dirinya sendiri, tidak perlu kepada sebab lain untuk kejadianya, selain ke dirinya sendiri yaitu Tuhan.
2.      Berkehendak kepada yang lain, yaitu mahluk yang butuh kepada yang menjadikannya.
3.      Mahluk mungkin, yaitu bisa pula bisa tidak ada dan ia sendiri tidak butuh kepada kejadiannya maksudnya benda-benda yang tidak berakal seperti, pohon, air, batu, tanah, api dan lain-lain.
Ada tiga unsur dalam filsafat Ibnu Sina diantaranya sebagai berikut:
1)      Unsur Ilmu Kalam
Ibnu Sina mengikuti cara yang digunakan oleh kaum muttakalimin yang mengklasifikasikan segala maujudat ini dalam dua klasifikasi yaitu yang wajib dan yang mungkin.[19]
2)      Unsur yang berasal dari prinsip filsafat zaman
Ibnu Sina dalam kitabnya An-Najah,  mengatakan bahwa yang satu itu ditinjau dari yang satunya , hanya dapat diperoleh satu juga. Tiap-tiap yang satu hanya dapat mengeluarkan satu juga.
3)      Unsur yang berasal dari filsafat Aristoteles dan Neoplatonisme[20]
Bahwa tuhan itu adalah Al-Aqlu. Akal kalau memikirkan dirinya , lalu memikirkan suatu hal diluar sebab timbulnya akal lain yang dinamakan akal pertama, menimbulkan akal kedua dan seterusnya.
Metafisika pokok persoalanya adalah objek wujud dan jelas. Keduanya itu bebas tidak bertalian dalam perubahan pada bendanya, seperti faham tentang mahluk,sebab musabab dan lain-lain. Aristoteles menamakan ilmu metafisika ini ilmu agama, sebab Tuhan, adalah wujud penting.
Tuhan adalah satu-satunya Kebenaran dan Wujud Wajib serta sebab pertama.[21] Bagi Ibnu Sina sifat wujudlah yang terpenting dan yang mempunyai kedudukan diatas segala sifat lain, walaupun esensi sendiri. Dalam faham Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedangkan wujud terdapat di luar akal. Tanpa wujud esensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari esensi. Kalau dikombinasikan, esensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi sebagai berikut:
a)      Essensi yang tak dapat mempunyai wujud, dan hal yang serupa ni disebut oleh Ibnu Sina “Mumtani” yaitu sesuatu yang mustahil berwujud.
b)      Essensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud. Yang serupa ini disebut “Mumkin” sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak pula berwujud.
c)      Essensi yang mestinya mempunyai wujud. Essensi dan wujud adalah sama dan satu. Yang serupa ini disebut mesti berwujud yaitu tuhan.dan wajib al wujud inilah yang mewujudkan mumkin al wujud.
Pernyataan bahwa alam wujud ini perlu kepada Allah, Ibnu Sina menghubungkan keduanya dalam suatu ikatan yang kuat. Ikatan sebab dan akibat. Begitu juga ia menggunakan ide wajib dan mumkin dalam usaha memadukan agama dengan filsafat, sehingga ia menyangka telah berhasil menyenangkan kedua belah pihak.[22] Satu-satunya ajaran Islam yang terdapat dalam hubungan Tuhan dengan alam adalah ajaran “Ilmu Illahi” yang dipertahankan lagi oleh Ibnu Sina sebagai ajaran yang sesuai dengan ajaran Islam sehingga ia menjadikan ilmu Allah menjangkau segala sesuatu yang ada di langit dan yang ada di bumi. [23] Dalam persoalan alam semesta, Ibnu Sina adalah seorang konseptualis. [24]Pembahasan ini berakhir dengan lima dasar dalam ilmu metafisika Ibnu Sina, sebagai berikut:
Ø  Adanya Tuhan dan Hubungan-Nya dengan alam semesta.
Ø  Hukum Alam atau hierarchy-kanun mahluk, berjenjang naik bertangga turun
Ø  Hukum sebab dan musabab
Ø  Konsepsi yang Maha Mengatur
Ø  Tuhan Yang Maha Tahu.[25]
b.      Ilmu Jiwa Ibnu Sina
Selain persoalan metafisika ketuhanan, Ibnu Sina juga memberikan perhatian yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan. Jiwa itu suatu “bentuk tubuh” yang memungkinkan tubuh tempatnya yang berdiam itu untuk menjelmakan dirinya secara khusus dan melaksanakan kerja-kerja tertentu.[26] Ilmu jiwa Ibnu Sina di Eropa sangat ternama. Buku-bukanya sampai ke Eropa dengan bahasa Latin terutama Al-Syifa. Peranan Ibnu Sina dalam ilmu jiwa mempengharui dunia timur dan barat. Bagian yang terpenting untuk ilmu jiwa dalam Al-Syifa dinamakan Al-Najat dalam biku ini Ibnu Sina menuliskan berbagai Persoalan dalam ilmu jiwa. Ibnu Sina berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat: sifat wajib wujudnya sebagai pancaran dari Allah, dan sifat mungkin wujudnya jika ditinjau dari hakekat dirinya. Terhadap masalah bahwa jiwa itu suatu perwujudan tersendiri diluar perwujudan tubuh, Ibnu Sina mengungkapkan berbagai alas pikiran guna pembuktian sebagai berikut:
1.      Manusia itu memiliki tanggapan terhadap objek-objek pikiran yang bukan datang dari saluran panca indera.
2.      Manusia itu senantiasa menanggapi bahwa “dia itu ada” dan bahwa “dia itu adalah dia” dan keberadaannya itu berketerusan.
3.      Manusia itu bilamana kehilangan salah satu anggota tubuhnya maka akan berkurang jumlah pengenalannya, seumpana kehilangan mata atau pendengaran atau lainnya, akan tetapi “jiwa yang berfikir” itu tidak pernah terpengaruh oleh hal itu.
4.      Manusia itu telah terbenam oleh pikiran maupun tekun dalam berbuat, sememtara itu ia akan lupa anggota tubuhnya dan panca inderanya, tapi tak pernah lupa bahwa ia telah berfikir maupun tengah berbuat.[27]
Dengan demikian ia mempunyai tiga objek pemikiran: Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya dan dirinya sebagai mungkin wujudnya. Dari pemikiran tentang tuhan timbul akal-akal, dari pemikiran tentang tentang dirinya sebagai wajib wujudnya timbul jiwa-jiwa, dan dari pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul langit-langit. Sebagai Ariestoteles Ibnu Sina membagi dalam tiga bagian yaitu:
1.      Jiwa tumbuh-tumbuhan dengan daya-daya:
Ø  Makan
Ø  Tumbuh
Ø  Berkembang biak[28]
2.      Jiwa binatang dengan daya-daya:
Ø  Gerak
Ø  Menangkap: menangkap dari luar dengan panca indra, menangkap dari dalam dengan indra-indra dalam diantaranya:
ü  Indra bersama, yang menerima segala apa yang di tangkap oleh panca indera.
ü  Representasi, yang menyimpan segala apa yang diterima oleh indera bersama.
ü  Imajinasi, yang dapat menyusun apa yang disimpan dalam representasi.
ü  Estimasi, yang dapat menangkap hal-hal abstrak yang terlepas dari materi umpamanya keharusan lari bagi kambing dari anjing srigala.
ü  Rekoleksi, yang menyimpan hal-hal abstrak yang diterima oleh estimasi.[29]


3.      Jiwa manusia dengan daya-daya:
Ø  Praktis yang hubungannya adalah dengan badan
Ø  Teoritis yang hubunganya adalah dengan hal-hal yang abstrak. Daya ini mempunyai tingkatan:
ü  Akal Materil yang semata-mata yang mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikit.
ü  Intelektual in habits yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal-hal yang abstrak
ü  Akal Mustafad , akal yang telah sanggup berfikir tentang hal-hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya. Akal yang terlatih begitu rupa sehingga hal-hal yang abstrak selamnya terdapat dalam akal yang serupa ini, akal yang serupa inilah yang sanggup meneima limpahan ilmu pengetahuan dari akal aktif.
Sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa yang berpengaruh kepada dirinya. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berkuasa pada dirinya, maka orang itu dapat menyerupai bintang. Tetapi jika jiwa manusia yang mempunyai pengaruh atas dirinya maka orang itu dekat menyerupai malaikat dan dekat pada kesempurnaan.
Menurut pendapat Ibnu Sina manusia merupakan satu unit tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jika manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini. Salah satu dalil yang digunakan Ibnu Sina untuk membuktikan adanya jiwa adalah orang terbang. Menurut Ibnu Sina, andaikan ada orang yang mempunyai kekuatan yang penuh, baik akal maupun jasmani kemudian ia menutup matanya sehingga tak dapat melihat sama sekali apa yang ada disekelilingnya, kemudian ia diletakkan di udara, sehingga ia tidak merasakan sesuatu persentuhan atau perlawanan dan anggota badannya diatur sedemikian rupa sehingga ia tidak saling bersentuhan da atau bertemu. [30] Segi-segi kejiwaan pada Ibnu Sina pada garis besarnya dapat dibagi dalam dua segi, yaitu: Pertama, Segi Fisika yang membicarakan macam-macamnya jiwa, pembagian kebaikan-kebaikan, jiwa manusia, indera dan lain-lain dan pembahasan lain yang biasa termasuk ke dalam pengertian ilmu jiwa yang sebenarnya. Kedua, Segi Metafisika yang membicarakan tentang wujud dan hakikat jiwa, pertalian jiwa dengan badan, dan keabadian jiwa. Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan baik pada dunia pikir Arab sejak abad ke-10 M sampai akhir abad ke-19 M, maupun pada filsafat skolastik Yahudi dan Masehi. [31]

20 Fakta Unik Ibnu Sina yang Jarang Diketahui Orang
1.      Ibnu sina telah hafal Al-Qur’an di usia 7 tahun, ia juga telah memahami metafisika dan semua filsafat Aristoteles di umur 8 tahun. Di usia ini ia telah berinisiatif sendiri membeli buku tafsir metafisika Aristoteles karya Al Farabi seharga 3 Dirham.
2.      Ibnu Sina telah membahas Kanker, Tumor, Diabetes pada Masterpiece-nya Canon Of Medicine. Ia sendiri telah membahas tentang bedah tumor. Teorinya tentang cara penularan TBC sempat ditolak di Barat selama ratusan tahun, namun pada akhirnya diterima kebenarannya setelah mikrosoft ditemukan. Ia juga telah menyatakan dalam Canon tentang manfaat olahraga untuk menjaga kesehatan.
3.      Uji klinis, exsperimental medicine, uji efektivitas obat adalah beberapa kontribusi Ibnu Sina dibidang farmakologi klinis. Sebelum uji klinis da kaidah-kaidahnya ditemukan, sebenarnya pada masa2 islam obat-obatan dicobakan pada hewan seperti kera, singa, tikus, dan kuda untuk melalui uji kelayakan beredar.
4.      Ibnu Sina adalah pelopor Psikofisiologi, psikosomatik dan Neuropsikiatri. Ketertarikannya ini membuatnya menulis banyak jurnal tentang psikologi dan psikiatri, jauh sebelum Sigmund Freud. Beberapa penyakit yang ia bahas diantaranya meliputi halusinasi, imsonnia, dementia dan vertigo.
5.      Ibnu Sina sangat percaya bahwa pikiran manusia dapat mempengharui kondisi fisiknya. Ia bahka pernah berpesan kepada murid-muridnya, “ jangan pernah katakan kepada pasien kalau penyakit mereka tidak bisa diobati. Karena sesungguhnya sugesti kalian adalah obat bagi pasien.”
6.      Di bidang fisika Ibnu Sina adalah penemu thermometer dan ia selalu mnggunakan alat itu disetiap penelitiannya untuk mengukur suhu udara sekitar.
7.      Di bidang kimia, Ibnu Sina menemukan tehnik destilasi uap untuk mengesrak minyak atsiri dari herbal dan rempah-rempah.
8.      Di bidang metafisika Ibnu Sina telah menyatakan bahwa manusia dapat menciptakan kejadian dalam hidupnya dengan energy pikirannya dan emosi kuat yang menyertainya.
9.      Pengobatan dengan lintah yang popular pada abad-18  di Eropa sebenarnya adalah temuan Ibnu Sina.
10.  Ibnu Sina menemukan peredaran darah manusia dan anatominya, 600 tahun lebih sebelum William Harvey.
11.  Ibnu Sina adalah Founding Father Rumah Sakit Jiwa. Disamping dosen, dokter dan filusuf ia juga adalah seorang psikiater. Pada saat itu di Eropa, orang-orang gila masih dibakar hidup-hidup karena dianggap penjelmaan iblis.
12.  Ibnu Sina membahas dalam Canon of Medicine tentang manfaat Red Wine memperkuat jantung. Tahun 1940-an, dunia kesehatan barat membenarkan hal ini dengan adanya anti oksidan fenolik bernama resveratrol yang terdapat dalam Red Wine. Resveratrol baru dipublikasikan dalam dunia kesehatan pada tahun 1990-an.
13.  Di Canon Ibnu Sina membahas tentang ethanol yang dapat membunuh mikroorganisme. Setiap kali hendak meracik obat atau menangani fasien, ia slu mecuci tanganya dengan khamer sebab isolat ethanol belum ditemukan pada masanya.
14.  Sebagian metode pengobatan Ibnu Sina menggabungkan unsur metode yunani yang saat itu hampir punah. Kini metode pengobatan yunani yang dijelaskan Ibnu Sina mulai digunakan kembali oleh orang-orang Barat sebagai salah satu metode kesehatan alternativ seperti Yoga.
15.  Ibnu Sina memiliki kebiasaan berwudhu dan sholat-sholat sunah 2 rakaat setiap kali ia menemukan jalan buntu, meneliti atau menulis. Menurut pengakuannya, seringkali ia menemukan inspirasi kembali setelah sholat atau dalam mimpi tidurnya.
16.  Ibnu Sina disamping jagonya logika, otak kanannya tidak kala hebat. Ia juga adalah penyair, jago bermain musik dan juga bernyanyi. Kemampuanya membaca dan menulis sangat cepat. Ia bahkan bisa menulis dengan tulisannya tetap rapi diatas punggung kuda yang berjalan cepat.
17.   Sejak kecil ibnu Sina telah mendapatkan homeschooling dari banyak guru dan ia tidak malu berguru ke siapa saja. Ia mengaku semasa kecilnya mempelajari aritmatika dari tukang sayur India. Hingga tua pun ia masih suka berguru kebanyak ilmuan, salah satunya ahli fiqh terkenal Al Farabi.
18.  Ibnu sina sangat workaholic. Ia menghabiskan sepanjang siangnya meneliti di lab, mengajar atau menangani pasiennya sepanjang malam ia belajar dan menulis buku serta jurnal. Bahkan sekertarisnya Al Jauzakani, menyatakan bahwa Ibnu Sina meninggal karna kelelahan. Saat ia mendapat teguran dari temanya mengenai kebiasaan workaholic ini, Ibnu Sina menjawab “ saya memilih umur pendek yang penuh makna dan karya, daripada umur panjang yang hampa”.
19.  Karena sifat workaholic yang mendahulukan ilmu diatas segalanya, Ibnu Sina tidak pernah menikah seumur hidupnya. Menjelang meninggal, ia mendatangi setiap orang yang pernah ia sakiti untuk meminta maaf dan hartanya ia bagikan untuk fakir miskin.
20.  Beberapa murid jarak jauh atau orang-orang yang banyak menerima pengaruh dari Ibnu Sina, hingga ratusan tahun setelah ia meninggal: Imam Ghozali, Umar Khayam, Ibnu Rusydi, Vincent de Beauvais, Isaac Newton, William Harvey, dll.[32]

 III.            Kesimpulan
a)      Ibnu Sina adalah ilmuan muslim yang mahir dibanyak bidang seperti kedokteran, politik, kesenian dan filsafat. Ia juga seorang yang produktif menelurkan karya, salah satu karyanya adalah As-Syifa yang memuat tentang filsafat. Dan karya-karya lainya adalah:
Ø  An-Najat
Ø  Al-Isyarat wat-Tanbikat
Ø  Al-Qanun
Ø  Al-Hikmah Al-Masyriqiyah
b)      Ibnu Sina adalah murid Al-Farabi sehingga mereka memiliki pandangan pemikiran yang sama antara Ibnu Sina dan Al-Farabi tentang teori ketuhanan.
c)      Ibnu Sina juga memberikan perhatian yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan. Jiwa itu suatu “bentuk tubuh” yang memungkinkan tubuh tempatnya yang berdiam itu untuk menjelmakan dirinya secara khusus dan melaksanakan kerja-krja tertentu.
d)     Segi-segi kejiwaan pada Ibnu Sina pada garis besarnya dapat dibagi dalam dua segi, yaitu: Pertama, Segi Fisika. Kedua, Segi Metafisika.
DAFTAR PUSTAKA

Al Ahwani Ahmad Fuad. Filsafat Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus. 1993
Daudy Ahmad. Segi-segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1984
Hanafi Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1996
Hasbullah. Disekitar Filsafat Skolastik Islam. Jakarta: Tintamas. 1973
Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama. 2002
Hoesin Oemar Amin. Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1975
Khan Ali Mahdi. Dasar-dasar Filsafat Islam (Pengantar Ke Gerbang Pemikiran). Bandung: Nuansa. 2004
Nasution Harun. Filsafat dan Mitisisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1973
Nata Abuddin. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2003
Romas Ghofir. Antara Islam dan Rationalisme. Semarang: BUPFD IAIN Walisongo. 1979
Purwantana dkk. Seluk Beluk Filsafat Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1994
Sudarsono. Filsafat Islam. Jakarta: Rineka Cipta. 1996
Supena Ilyas. Pengantar Filsafat Islam. Semarang, Walisongo Press. 2010
Sou’yb Yoesoef. Pemikiran Islam Merobah Dunia. Jakarta: Firman Madju. 1984
http://zilzaal.blogspot.com fakta-unik-ibnu-sina  tgl. Akses 29-04-2013



[1] Ilyas Supena, Pengantar Filsafat Islam, Semarang: Walisongo Press, 2010. Hal, 97
[2] Harun Nasution, Falsafat dan Mitisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1992. Hal. 34
[3] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000. Hal, 61

[5] Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993. Hal, 70
[6] Poerwantana dkk, Seluk Beluk Filsafat Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya,1991. Hal, 144-145
[7] Ali Mahdi Khan, Dasar-dasar Filsafat Islam, Pengantar ke Gerbang Pemikiran, Bandung: Nuansa, 2004. Hal, 73
[8] Ilyas Supena, Pengantar Filsafat Islam, Op.Cit. Hal, 98
[9] Yoesoef Sou’yb, Pemikiran Islam Merobah Dunia, Bandung: Firman Madju, 1984. Hal, 133
[10] Ibid, hal, 132
[11] Yoesoef Sou’yb, Ibid. hal 146
[12] Sudarsono, Filsafat Islam, Jakarta: Rineka Cipta, Cet. 1, 1997. Hal, 44
[13] Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. 2, 1964. Hal, 116
[14] Ahmad Hanafi, pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. 6, 1996. Hal, 8
[15] Ghofir Romas, Antara Islam dan rationalisme, Semarang: Badan Usaha Penerbitan Fakultas Dakwah IAIN Walisongo. 1979. Hal, 12
[16] Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, Op.Cit. Hal, 70
[17] Ilyas Supena, Op.Cit. Hal, 105-106
[18] Ilyas Supena, op.Cit. Hal, 99
[19] Poerwanto dkk, Seluk Beluk Filsafat Islam, Op.Cit. Hal,46-48
[20] Hasbullah, Disekitar Filsafat Skolastik Islam, Jakarta: Tintamas, 1978. Hal, 43
[21] Ali Mahdi Khan, Dasar-dasar Filsafat Islam, Pengantar ke Gerbang Pemikiran, Op.Cit. Hal,84
[22] Ahmad Daudy, Segi-segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984. Hal, 17
[23] Ilyas Supena, Pengantar Filsafat Islam, Op.Cit. Hal, 103
[24] Ali Mahdi Khan, Dasar-dasar Filsafat Islam, Pengantar ke Gerbang Pemikiran, Op.Cit. Hal, 80
[25] Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang Cet. 2, 1964. Hal, 125
[26] Yoesoef Sou’yb, Op. Cit. Hal, 140
[27] Yoesoef Sou’yb, Ibid. Hal, 142
[28] Harun Nasution. Op.Cit. Hal, 35-37
[29] Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, Cet. VI, 2002. Hal 72-73
[30] Ilyas Supena, Op.Cit. Hal, 107
[31] Poerwantana dkk, Seluk Beluk Filsafat Islam, Op.Cit. Hal, 156-157
[32]  http://zilzaal.blogspot.com fakta-unik-ibnu-sina  tgl. Akses 29-04-2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar