Sabtu, 22 Juli 2017

PENGARUH KEPRIBADIAN DA’I DALAM PROSES DAKWAH



PENGARUH KEPRIBADIAN DA’I DALAM PROSES DAKWAH

A.    Pendahuluan
Kepribadian merupakan suatu karakteristik yang melekat pada tiap individu, dimana kebribadian itu bersifat unik dan berbeda-beda. Dalam setiap aspek kehidupan yang berkaitan dengan masalah atau aktivitas tentunya setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan dan mengambil keputusan dalam melakoninya. Dalam pembahasan kali ini akan di uraikan tentang bagaimana kepribadian mampu mempengaruhi da’I dalam melaksanakan kegiatan dakwahnya.
Setiap da’I memiliki kepribadiannya masing-masing, layaknya manusia pada umumnya da’I juga memiliki karakteristik dalam kegiatannya yakni mengajak manusia kembali kejalan Allah SWT. Menurut stogdill  seorang da’I diibaratkan seperti seorang leader, menurut teorinya seorang leader (da’i) di dalam kegiatan dakwah atau penerangan agama, sikap dan sifat serta kemampuan menolong orang lain merupakan suatu pola yang harusnya ditonjolkan, hal ini dilakukan untuk mendapatkan simpati dari mad’unya.[1]
Untuk itulah perlu digaris bawahi bahwa dengan kepribadian yang dimiliki oleh masing-masing da’I dengan karakteristik yang melekat padanya, maka akan ditemukan suatu barometer “seberapa efektifkah dakwah yang telah dijalankah oleh masing-masing pendakwah?”. Dengan kepribadian yang dipadukan dengan seni berdakwah maka akan terlihat berhasilkah seorang da’I membawa perubahan yang baik kepada mad’uny,a untuk itulah mari kita uraikan pada pembahasan kali ini.

B.     Definisi Kepribadian
Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas daridiri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya: keluarga pada masa kecil dan juga bawaan sejak lahir.[2] Menurut Freud (2005) kepribadian merupakan suatu struktur yang terdiri atas tiga sistem yakni id, ego dan superego, sedangkan tingkah laku adalah hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga unsur dalam sistem kepribadian tersebut.[3]
Kepribadian dapat pula diartikan sebagai satu totalitas terorganisir dari disposisi-disposisi psikis manusia yang individual, yang member kemungkinan untuk membedakan cirri-cirinya yang umum dengan pribadi lainnya. Menurut Gordon W Allport, kepribadian itu adalah kesatuan organisasi yang dinamis  sifatnya dari sebuah sistem psikofisis individual yang menentukan kemampuan penyesuaian diri yang unik sifatnya terhadap lingkungannya.[4]
            Jadi pada intinya kepribadian merupakan sekumpulan proses-proses psikologis yang terdiri atas kebiasaan yang melekat dan menjadikan seseorang Nampak berbeda dari individu lainnya.

C.     Definisi Da’i
Kata da’I berasal dari bahasa arab dengan bentuk mudzakar (LK) yang berarti orang yang megajak, kalau muanas (PR) disebut da’iyah. Dalam kamus bahasa Indonesia da’I diartikan sebagai orang yang pekerjaannya berdakwah .[5] Da’I dalam perspektif ilmu komunikasi diartikan sebagai komunikator yang bertugas menyebarkan dan menyampaikan informasi-informasi dari sumber melalui saluran yang sesuai pada komunikan.[6]
Kata Da’I atau da’iyah menurut bahasa adalah isim fail berwazan fa’ilah dari kata da’aa, yad’uu, daa’in. kata da’iyah bermakna suara kuda dalam suatu peperangankarena ia menjawab orang yang berteriakteriak memanggilnya. Da’I secara istilah adalah orang Islam yang secara syariat mendapat beban dakwah mengajak kepada agama Allah. Tidak diragukan lagi bahwa defginisi ini mencakup seluruh lapisan dari rasul, ulama, penguasa setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan.[7]
Da’I secara istilah adalah orang Islam yang secara syariat mendapatkan tugas  dakwah dengan misi mengajak mad’u  kepada agama Allah (amr ma’ruf nahi mungkar). Definisi ini mencakup seluruh lapisan dari rasul, ulama, penguasa setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan.

D.    Definisi Kepribadian Da’i
Kepribadian Dai adalah sifat atau akhlak yang harus tertanam dalam diri seorang da’i, yang mengemban amanah berdakwah dijalan Allah.

E.     Ciri-ciri Kepribadian Da’i
Untuk membuat suatu proses dakwah yang sesuai dengan yang diharapkan maka seorang da’I harus memiliki kriteria-kriteria kepribadian yang positif , Dan berikut ini terdapat beberapa ciri kepribadian da’I,  di antaranya:
I.       Kepribadian yang bersifat Rohaniah
Kriteria yang baik sangat menentukan proses keberhasilan dakwah, karena pada hakekatnya dakwah tidak hanya menyampaikan teori akan tetapi memberikan teladan bagi umat yang diseuru, keteladanan jauh lebih besar daripada kata-kata, hal ini sejalan dengan ungkapan hikmah “Lisan al-hal abyanu min lisan al maqal” (kenyataan itu lebih menjelaskan dari ucapan). Klasifikasi kepribadian da’I yang bersifat rohaniah mencakup sikap, sifat dan kemampuan dari pribadi da’i.
1.      Sifat-sifat da’I
a.       Beriman dan bertaqwa kepada Allah swt
b.      Ahli Taubat
c.       Ahli Ibadah
d.      Amanah dan Shidiq
e.       Pandai Bersyukur
f.       Tulus Ikhlas dan tidak mementingkan pribadi
g.      Ramah dan penuh pengertian
h.      Tawaddu (Rendah hati)
i.        Sabar dan tawakal.[8]
2.      Sikap Seorang da’i
Sikap dan tingkah laku da’I merupakan salah satu faktor penunjang kesuksesan dakwah, masyarakat sebagai suatu komunitas social lebih cendrung menilai karakter dan tabiat seseorang dari tingkah laku keseharian yang dapat dilihat dan didengar. “Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan melihat siapa yang mengatakan” . berikut ini adalah sikap yang harus dimiliki seorang da’i:
a.       Berakhlak Mulia
b.      Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani
c.       Disiplin dan bijaksana
d.      Wara’ dan berwibawa
e.       Berpandangan luas
f.       Berpengetahuan

II.                Kepribadian Jasmani
1.      Sehat Jasmani
Dalam kegiatan dakwah diperlukan adanya akal yang sehat dan didalam akal yang sehat terdapat badan yang sehat pula. Seorang da’I yang professional jika berdakwah dengan jumlah sasaran yang banyak maka kesehatan jasmani mutlak diperlukan sebab bila kondisi badan tidak memungkinkan, sedikit banyak akan mengurangi performance da’i.
2.      Berpakaian sopan dan rapi
Pakaian yang sopan, praktis dan pantas mendorong simpati seseorang pada orang lain bahkan pakaian pun berdampak pada kewibawaan seseorang. Seorang da’I juga harus memperhatikan pakaian yang dikenakan, karena pakaian juga menunjukan kepribadian seseorang.[9]
Achmad Mubarok dalam psikologi dakwah mengemukakan bahwa seorang da’I juga harus memiliki beberapa kemampuan, diantaranya:
a.       Kemampuan berkomunikasi
Dakwah adalah mengkomunikasikan pesan kepada mad’u. komunikasi dapat dilakukan dengan lisan, tulisan atau perbuatan. Komunikasi dapat berhasil manakala pesan dakwah itu dipahami oleh mad’u.
b.      Pemberani
Kapasitas kepemimpinan seorang da’I boleh sekurang-kurangnya hanya dalam bidang keagamaan tapi tidak menutup kemungkinan untuk menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinan dalam bidangsosial, ilmu pengetahuan bahkan mungkin militer. Daya tarik kepemimpinan seseorang antara lain erletak pada keberanian, keberanian diperlukan oleh seorang da’I untuk menyuarakan kebenaran manakala ia dihadapkan pada berbagai tantangan. [10]
F.      Hubungan Kepribadian Da’I dan Keberhasilan dakwah
Dengan adanya pemahaman yang benar terhadap kepribadian diri serta kegiatan dakwah, upaya yang harus dilakukan seorang da’I adalah melaksanakan prinsip-prinsip yang dapat disaksikan dan dirasakan pengaruhnya oleh manusia. Hal ini dapat dilakukan melalui upaya untuk merealisasikan keberhasilan dakwah dengan jalan Ishlah An Nafs (perbaikan jiwa), seorang dai harus mengamalkan bagaimana cara menjadi muslim yang kuat fisiknya, luas wawasan berfikirnya, mampu bekerja keras, bersih akidahnya, benar ibadahnya, selalu berjihad melawan nafsunya, memperhatikan waktu, teratur kehidupannya, dan bermanfaat untuk orang lain.
 Dengan Ishlah An Nafs (perbaikan jiwa) diharapkan akan tercipta makna ubudiyah kepada Allah, terdidik dengan agama Islam dan menjadi terbina dengan baik fisik, akal dan ruhaniyahnya. Karakter manusia yang mulia akan benar-benar tampak, sehingga benar-benar menjadi manusia Ahsanu Taqwim.[11]

G.    Kesimpulan
Suksesnya suatu kegiatan dakwah tergantung bagaimana usaha da’I dalam menyampaikan pesanya kepada mad’u  Namun dalam kegiatan penyampaiannya terdapat salah satu faktor yang begitu dekat dan tentunya sangat berperan dalam sukses atau tidaknya kegiatan dakwah, faktor tersebut ialah kepribadian yang melekat pada diri da’I sebagi juru dakwah. Apabila seorang da’I memiliki kepribadian yang menarik akan berhasillah dakwahnya dan sebaliknya jika da’I memiliki kepribadian yang tidak menarik hati dan tidak memiliki daya tarik, pastilah dakwahnya tidak akan sukses.
Kalau engkau keras dan kasar hati, niscahya mereka itu akan beralih dari keliling engkau. Oleh sebab itu maafkanlah mereka itu dan mohonkanlah ampun untuk mereka dan ajarkanlah mereka musyafarat dalam urusan itu. Dan apabila engkau telah berazam, maka tawakallah kepada Allah SWT.  (Q.s Ali Imran: 159)

Daftar Pustaka
Arifin. 1977. Psikologi dakwah. Jakarta: Bulan Bintang.

Enjang AS dan Aliyudin.  2009. Dasar-dasar Ilmu Dakwah. Jakarta : Widya Padjajaran.
Faizah dan Lalu Muchsin Effendi. 2009. Psikologi Dakwa. Jakarta: Prenanda Media Group.
Kartono. Kartini.  2005. Teori Kepribadian. Bandung: CV Mandar Maju.

Mansur. Mustafa. 2000.  Fiqhud Dakwah. Jakarta: Al-I’tishom,
Sjarkawi. 2008. Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta : Bumi Aksara.
http://sitiandriyani.blogspot.com/2010/12/kepribadian-dai.html
Jum’ah Amin Abdul Aziz. 2011.  Fiqih Dakwah. Solo: PT ERA Adicitra Intermedia.


[1] Arifin, Psikologi dakwah,( Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hal 113
[2] Dr. Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008), hal 11
[3] Ibid, Dr. Sjarkaw,i hal 17
[4] Kartini Kartono, Teori Kepribadian, (Bandung: CV Mandar Maju, 2005), hal 11
[5] Enjang AS dan Aliyudin, Dasar-dasar Ilmu Dakwah, (Jakarta : Widya Padjajaran, 2009), hal 73
[6] Ibid, Enjang AS dan Aliyudin hal 75
[7] http://sitiandriyani.blogspot.com/2010/12/kepribadian-dai.html

[8] Faizah dan Lalu Muchsin Effendi, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Prenanda Media Group, 2009), hal 96
[9] Ibid, Faizah dan Lalu Muchsin Effendi, hal 100
[10] Mustafa Mansur, Fiqhud Dakwah, (Jakarta: Al-I’tishom, 2000), hal 104
[11] Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fiqih Dakwah, (Solo: PT ERA Adicitra Intermedia, 2011), hal 59

Tidak ada komentar:

Posting Komentar