Jumat, 20 April 2018

Citra Da'i


 Citra Da'i

I.     PENDAHULUAN
Pada hakikatnya, gerakan dakwah Islam berporos pada amar ma’ruf nahi munkar. Ma’ruf mempunyai pengertian segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, sedangkan munkar adalah segala perbuatan yang menjauhkan diri pada-Nya. Pada dataran amar ma’ruf, siapapun bisa melakukannya, karena kalau hanya sekedar “menyuruh” kepada kebaikan itu mudah dan tidak ada resiko bagi si “penyuruh” . lain halnya dengan nahi munkar, jelas mengandung konsekuensi logis dan beresiko bagi yang melakukannya karena “mencegah kemunkaran” itu melakukannya dengan tindakan konkret, nyata dan dilakukan atas dasar kesadaran tinggi dalam rangka menegakkan kebenaran.
Inilah sesungguhnya cikal bakal perintah dakwah yang diwajubkan oleh Allah SWT, pada setiap pribadi seorang muslim yang mengaku beriman. Sesungguhnya dakwah yang diajarkan oleh para Nabi dan rasul-Nya menurut ketentuan al-Qur’an, dakwah Islam hendaknya disampaikan dengan cara-cara yang baik dan bahasa yang dapat dipahami pula. Bahkan tidak kalah pentingnya lagi ialah, seorang muslim dalam berdakwah dilarang untuk memaki seorang kafir yang dikhawatirkan nantinya akan menyebabkan ia memaki Allah SWT.
Demikianlah batasan-batasan dalam berdakwah (dataran empiric) yang telah termaktub dalam al-Qur’an secara rinci, tegas dan sempurna sebagai acuan bagi seorang muslim untuk menyampaikan kebenaran dari Allah SWT., dengan meletakkan al-Qur’an sebagai sumber utama landasan epistemologis dan aksiologisnya.
Berangkat dari pemaparan tersebut di atas, dalam mengembangkan dakwah Islam selanjutnya, perlu kiranya dirumuskan secara tegas mengenai epistemologis dakwah secara keilmuan. Rumusan di sini menayangkut hal-hal yang berkenaan dengan hakikat, landasan, batas-batas keilmuannya termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah dan persoalan ilmiah yang dapat diuji, di samping patokan kesahihannya.
II.   RUMUSAN MASALAH
A.  Definisi Teori dan Macam-macamnya
B.  Macam-Macam Teori
C. Definisi Citra
III.             PEMBAHASAN
Salah satu langkah yang penting dilakukan dalam ikhtiar dalam mengembangkan ilmu dakwah adalah menelusuri terlebih dahulu landasan ilmiah yang mungkin dapat dibangun. Ini dilakukan terutama untuk menentukan kerangka pemikiran yang jelas dalam merumuskan teori-teori baru berkaitan dengan ilmu dakwah. Selain itu pentingnya penelusuran itu juga karena telah banyak teori yang mendahului lahir, sekaligus telah relatif mapan dalam konteks pengembangan ilmu-ilmu sosial.
Pemilihan ilmu sosial sebagai landasan pijakan pengembangan ilmu dakwah, didasarkan pada satu asumsi bahwa teori-teori dakwah yang hendak dibangun merupakan produk generalisasi dari fenomena sosial. Ilmu dakwah dengan sendirinya merupakan bagian dari ilmu-ilmu sosial, yang dirumuskan serta dikembangkan dengan mengikuti norma ilmiah dari ilmu-ilmu sosial. Misalnya teori-teori itu dirumuskan melalui pendekatan rasional, empiris dan sistematis.
Untuk membangun teori-teori dakwah, kita dapat melakukannya melalui kegiatan ilmiah yang dapat memberikan konsep dan generalisasi baru yang diangkat dari penemuan-penemuan ilmiah, atau fakta-fakta sosial yang berkembang. Jika kegiatan ini terus dilanjutkan, maka pada tahap-tahap tertentu akan ditemukan titik-titik pertemuan antara teori-teori sosial yang telah dulu lahir dengan kenyataan-kenyataan empiris baru yang ditemukan pada dataran kegiatan dakwah.
Pertemuan antara dua sisi inilah yang akan melahirkan suatu rumusan dalam perspektif tertentu. Bila kenyataan empiris itu bertemu dengan teori-teori psikologi misalnya maka ia disebut dengan “perspektif psikologi” begitu juga dengan yang lainnya.
A.  Definisi Teori

Teori adalah serangkaian hipotesa atau proposisi yang saling berhubungan tentang suatu gejala (fenomena) atau sejumlah gejala. Definisi ini sebetulnya sudah cukup menggambarkan tentang apa yang dimaksud dengan teori, akan tetapi tidak berarti bahwa definisi tersebut di atas adalah satu-satunya definisi tentang teori.

B.  Macam-Macam Teori
Bermacam-macam teori dapat digolongkan menurut bentuk atau menurut isinya. Menurut bentuknya, ada dua macam teori, yaitu:
  1. Teori konstruktif (menurut istilah Einstein, 1934, dan Marx, 1951) atau teori merangkaikan (Kaplan, 1964), yaitu teori yang mencoba membangun kaitan-kaitan (sintesa) antara berbagai fenomena sederhana.
  2. Teori principle (Einstein, 1934) atau teori reduktif (Marx, 1951) atau teori berjenjang/Hierarchical (Kaplan, 1964) adalah teori yang mencoba menganalisa suatu fenomena ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil.
Menurut isinya, juga ada dua macam teori (Kaplan, 1964) yaitu:
  1. Teori Molar, yaitu teori tentang individu sebagai keseluruhan, misalnya teori tentang tingkah laku individu dalam proses kelompok.
  2. Teori molekular, yaitu teori tentang fungsi-fungsi syaraf dalam tubuh suatu organisme, misalnya teori konsistensi kognitif.

Selain penggolongan teori ke dalam beberapa tipe menurut bentuk dan isinya, kita perlu pula mengetahui teori mana yang baik dan teori mana yang tidak baik. Baik tidaknya suatu teori tidak ditentukan oleh bentuk atau isinya, melainkan ditentukan oleh beberapa norma di bawah ini:
  1. Norma Korespondensi (norm of corespondence) yaitu seberapa jauh teori ini cocok dengan fakta-fakta yang ada. Semakin cocok teori dengan fakta, semakin baik.
  2. Norma Koherensi (norm of coherence) yang meliputi dua ukuran:
a.       Seberapa jauh teori itu cocok dengan teori-teori sebelumnya. Ini tidak berarti bahwa suatu teori tidak boleh bertentangan dengan satu atau dua teori sebelumnya, akan tetapi walaupun ia bertentangan dengan teori-teori tertentu, suatu teori yang baik masih cocok dengan sejumlah teori lainnya.
b.      Kesederhanaan (simplicity), yaitu teori tersebut sederhana, dalam arti tidak rumit, tidak berbelit-belit, mudah dimengerti. Kesederhanaan ini meliputi dua hal;
1)      Kesederhanaan deskriptif, yaitu kesederhanaan dalam uraian tentang teori itu sendiri.
2)      Kesederhaan induktif: yaitu kesederhanaan dalam prosedur penarikan kesimpulan (induksi) dari data-data yang ada.

  1. Norma Pragmatik, yaitu seberapa jauh suatu teori mempunyai kegunaan praktis. Makin besar kegunaan praktisnya, makin baik teori yang bersangkutan.
C. Definisi Citra
Citra adalah kesan kuat yang melekat pada banyak orang tentang seseorang, sekelompok orang atau tentang suatu institusi. Seseorang yang secara konsisten dan dalam waktu yang lama berperilaku baik atau berprestasi menonjol maka akan terbangun kesan pada masyarakatnya bahwa orang tersebut adalah sosok yang baik dan hebat. Sebaliknya jika seseorang dalam kurun waktu yang lama menampilkan perilaku yang tidak konsisten, maka akan tertanam kesan buruk orang tersebut di dalam hati masyarakatnya. Dalam perspektif ini maka citra dapat dibangun. Orang yang ingin memiliki citra baik di dalam keluarganya atau di lingkungannya, maka ia harus bisa menunjukan sebagai orang baik secara konsisten.
D. Citra Seorang Da’i
Citra atau kesan terbangun melalui proses komunikasi interpersonal dimana orang banyak mempersepsi kepada kita atau sebaliknya. Citra dipersoalkan biasanya hanya pada seseorang yang secara sosial menonjol kedudukannya. Meski demikian tidak semua perbuatan dipersepsi secara tidak benar, karena persepsi dipengaruhi oleh banyak faktor.
 Setiap Da’i – idealnya - merasa sebagai pejuang yang bekerja untuk menyelamatkan masyarakat dari bencana dan mengantarnya pada kebahagiaan hakiki. Sebagai pejuang, maka seorang da’i tak mengenal lelah, tak mengharapkan penghargaan, dan juga upah. Kebahagiaan seorang da’i adalah apabila ia berhasil membimbing masyarakat kepada jalan yang benar, yang diridlai Allah. Bagi seorang da’i, ridla Allah lah yang dicari, oleh karena itu tantangan, hambatan dan bahkan caci-maki dari masyarakat yang belum bisa menerima dakwahnya diterima dengan ikhlas, sabar dan dijadikan cambuk perjuangan.
Demikianlah, betapa mulia tugas seorang da’i, ia bersusah payah demi kebahagiaan orang lain, tetapi pertanyaannya ialah, apakah da’i juga mulia dalam pandangan masyarakat?.
Dalam kehidupan keseharian, dapat dijumpai kenyataan bahwa tidak semua orang baik dipersepsi orang baik, tidak semua tugas mulia dipersepsi sebagai kemuliaan. Memberi nasehat dipersepsi sebagai sok tahu atau mencampuri urusan orang lain, mengingatkan dipersepsi sebagai penghinaan, dan sebagainya dan sebagainya. Dengan demikian kerja keras seorang da’i belum tentu dipersepsi sebagai kebaikan oleh masyarakat mad’u, padahal persepsi mad’u terhadap da’i mempengaruhi efektifitas dakwahnya

Konsep diri ada yang positif dan ada yang negatif. Jika seorang da’i memiliki konsep diri yang positif, maka ciri-cirinya adalah sebagai berikut :

1.       Ia memiliki keyakinan bahwa ia mampu mengatasi masalah yang akan dihadapi. Apapun kesulitan yang ia bayangkan, ia merasa yakin akan dapat menemukan jalan keluarnya.
2.      Dalam pergaulan dengan orang banyak, ia merasa setara dengan orang lain, ia tidak merasa rendah diri, tidak kecil hati, tidak merasa sebagai orang kampung yang ketinggalan zaman (meskipun ia berasal dari kampung), tetapi merasa sama. Jika orang lain bisa mengapa saya tidak bisa?
3.      Jika suatu saat ia dipuji orang, ia tidak tersipu-sipu malu, karena ia merasa pujian itu wajar saja, sekadar mengungkapkan keberhasilan atau kelebihan yang ia miliki. Baginya pujian tidak membuatnya merasa tinggi dari apa yang ada pada dirinya, atau merasa kagum terhadap dirinya (‘ujub). ia menerima pujian itu dengan terbuka karena pujian itu sudah pada tempatnya.
4.      Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki kecenderungan yang – tidak mungkin disetujui atau memuaskan seluruh masyarakat. Ia menyadari bahwa ia dapat melakukan suatu hal yang berguna dan menyenangkan orang lain, tetapi ia juga sadar bahwa tidak semua orang dapat menerima secara positip terhadap apa yang ia lakukan
5.      Mampu memperbaiki diri. Karena sikap yang terbuka terhadap pujian dan cacian, maka ia mampu menerima kritikan dan saran-saran dari orang lain sebagai masukan untuk memperbaiki diri.
Sedangkan da’i yang mempunyai konsef diri negatip, ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
1.      Peka terhadap kritik. Jika dikritik orang ia tidak tahan. Ia mempersepsi kritikan orang itu sebagai upaya untuk menjatuhkan dirinya. Oleh karena itu da’i yang konsep dirinya tidak dapat menjalankan dialog terbuka, ia tidak dapat menangkap pikiran-pikiran yang bagus dari para pengkritiknya, karena telinganya terlanjur “merah” dan oleh karena itu ia bersikukuh untuk mempertahankan logika berpikirnya yang keliru.
2.      Ia bersifat hiperkritis, kelewat kritis terhadap orang lain, sehingga ia cenderung merendahkan dan meremehkan orang lain. kepada dirinya sendiri.
3.      Ia merasa tidak disenangi oleh orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan, merasa tidak dianggap sebagai “orang” dan ditinggal. Oleh karena itu ia mudah mempersepsi orang lain sebagai lawan, sebagai saingan atau musuh yang mengancam keberadaan dirinya.
4.      Ia pesimis untuk bersaing dengan orang lain secara terbuka. Ia enggan untuk berkompetisi dengan orang lain. Karena ia merasa bahwa sistem persaingan itu merugikan dirinya. Ia sudah memastikan bahwa jika ia ikut kompetisi pasti akan dikalahkan oleh sistem yang tidak adil terhadap dirinya.
Seorang da’i sudah sepantasnya memiliki konsep diri yang positif, karena dari konsef diri positiflah akan lahir pola konsep diri positif. Da’i diharap tidak keliru mempersepsi orang, dan mampu berekspresi diri yang menimbulkan kesan positip. Sebagai orang yang harus mengetuk hati nurani dalam dakwahnya, seorang da’i harus memiliki citra “terbuka” di hadapan mad’unya, dan hanya orang yang memiliki konsep diri positiflah yang sanggup membuka diri. Orang yang terbuka (atau berani membuka diri) adalah orang yang tahu betul hal-hal apa yang telah diketahui orang lain tentang dirinya, sehingga tak perlu menutup-nutupi dengan topeng (kata-kata atau perilaku tertentu). Ia juga tahu betul hal-hal apa pada dirinya yang tidak perlu diketahui oleh orang lain, yang oleh karena itu tidak merasa perlu untuk memberitahukannya.
10 Realitas Dakwah Masa Kini
1.Lemahnya Team Work
2.Mengabaikan Media Massa
3 Munculnya Pemimpin ala 'Syekh'
4.Kehilangan Peran Kelembagaan
5.Mencampuradukkan Antara Ghoyah dan Wasilah
6.Fanatik Kesukuan dan Nasionalisme
7.Tidak Memiliki Perencanaan
8.Krisis Intelektualitas dan Berfikir
9.Hilangnya Dialog
10.Kegagalan Tarbiyah Kaum Ibu dan Anak-Anak

IV.             KESIMPULAN
Citra adalah kesan kuat yang melekat pada banyak orang tentang seseorang, sekelompok orang atau tentang suatu institusi. Seseorang yang secara konsisten dan dalam waktu yang lama berperilaku baik atau berprestasi menonjol maka akan terbangun kesan pada masyarakatnya bahwa orang tersebut adalah sosok yang baik dan hebat. Sebaliknya jika seseorang dalam kurun waktu yang
Teori adalah serangkaian hipotesa atau proposisi yang saling berhubungan tentang suatu gejala (fenomena) atau sejumlah gejala. Definisi ini sebetulnya sudah cukup menggambarkan tentang apa yang dimaksud dengan teori, akan tetapi tidak berarti bahwa definisi tersebut di atas adalah satu-satunya definisi tentang teori.
Citra atau kesan terbangun melalui proses komunikasi interpersonal dimana orang banyak mempersepsi kepada kita atau sebaliknya. Citra dipersoalkan biasanya hanya pada seseorang yang secara sosial menonjol kedudukannya. Meski demikian tidak semua perbuatan dipersepsi secara tidak benar, karena persepsi dipengaruhi oleh banyak faktor.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar